Travelogues

Selasa, 27 Maret 2012

Darah Naga Rimba Sumatra



Pada sunyi malam, para perempuan duduk di dekat jendela, melepas pandang ke kejauhan. Pada api mereka bakar darah naga; sihir pembujuk pulang kekasih yang pergi mengembara. Kisah ini didapat dari terjemahan bebas sepenggal catatan yang mencuplik Cunningham's Encyclopedia of Magical Herbs.

Darah naga, o darahnaga! William Marsden menyebutnya sebagai Sanguis draconis dalam buku Sejarah Sumatra (The History of Sumatra). Populer juga dengan nama dragon's blood. Marsden hanya mendengar sekilas bahwa darahnaga adalah bahan obat dari Sumatra yang banyak dijual ke daratan Cina.

Sejak sekitar abad ke-5, ilmu pengobatan bangsa Cina Kuno sudah mencatatkan darahnaga (Xue Jie) dalam Gong Pao Zhi Lun (Master Lei’s Treatise on Drug Processing). Dicatatkan pula dalam Xiu Xiu Ben Cao --sebuah rampai bergambar lebih dari 884 obat-- terbitan pemerintah Dinasti Tang ((618-907 Masehi).

Darahnaga cuma sebuah nama untuk hasil hutan bukan kayu (HHBK) atau oleh kalangan penggiat LSM disebut non-timber forest product (NTFP). Ia saripati getah buah satu jenis rotan. Rotan banyak macam, ada beberapa genus. Penghasil darahnaga adalah rotan bergenus Daemonorops. Rotan jenis jernang.

Selain dipakai dalam sesuatu yang magis dan upacara religi… darahnaga memang bahan obat kuno nan masyhur di tanah jauh itu. Dipercaya berkhasiat menghentikan pendarahan pada luka sekaligus peredam rasa sakit akibat cedera. Menyembuhkan diare, meluruhkan endometriosis, mengatasi ketakteraturan menstruasi, mengentaskan jamur di kulit, bahkan disebut-sebut sebagai bahan kosmetik. Ia juga bahan pewarna alami yang juga banyak dipakai sebagai bahan vernis dan cat, pewarna keramik, marmer, dll. Dia pemerah!

Dinamai darahnaga mungkin karena warnanya semerah darah. Barangkali karena tabiat tumbuhan rotan, tubuh kurus berduri tumbuh meliuk-liuk panjang merayapi pohon lain, melambas dedahan. Bisa jadi karena darahnaga didapat dari mengekstrak buah berkulit sisik macam naga dalam dongeng.



Lebih lengkap dapat dibaca di laman saya di kompasiana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar